Cita-cita "Tukang Insinyur" yang Berujung Jadi CEO Astra
Kehidupan ini sangat indah. Tak semua perjalanan hidup
manusia berjalan dengan mulus. Tentu banyak rintangan dan hambatan dalam
meraihnya. Kuncinya adalah kesabaran, keteguhan hati, memiliki prinsip yang
kuat, jujur, apa adanya, dan selalu melakukan inovasi. Di balik kesuksesan
seseorang, ada kisah-kisah mengharukan dan menyedihkan. Semua itu adalah proses
yang harus dilalui. Kompas.com meneruskan serial artikel "Success
Story" tentang perjalanan tokoh yang inspiratif. Semoga pembaca bisa
memetik makna di balik kisah ini.
- Menjadi
pucuk pimpinan suatu perusahaan multinasional tentu bukan hal yang mudah
dilakukan. Determenasi, fokus, serta disiplin tinggi mutlak dipenuhi demi
menjaga stabilitas manajerial perusahaan.
Adalah
Prijono Sugiarto, Presiden Direktur PT Astra International Tbk yang berhasil
membuktikan kualitas dirinya sebagai nahkoda perusahaan. Memimpin 227.000 orang
karyawan dari 191 anak perusahaan tentu bukan hal yang mudah dilakukan. Tapi,
pria kelahiran Jakarta, 20 Juni 1960 ini berhasil membuktikannya lewat
prestasi.
Pertemuan
KompasOtomotif dengan Pak Pri, begitu ia akrab disapa berlangsung di salah satu
hotel bintang lima di bilangan Jakarta Selatan, belum lama ini. Kala itu,
Prijono baru saja menyelesaikan pertemuan tahunan dan baru terpilih menjadi
Chairman Kamar Dagang Jerman di Indonesia atau German Indonesian Chamber of
Industry and Commerce (EKONID).
"Setelah
enam tahun Pak Ari Sumarno memimpin, saya diminta untuk menggantikannya dan
baru saja terpilih," ujar Prijono membuka awal perbincangan.
Kedekatan
Prijono dengan Jerman sulit dipisahkan, karena di Jerman ayah dua anak ini
menempa ilmu. Keinginannya dalam hidup terbilang sederhana dan mulia, menjadi
sarjana teknik mesin lulusan Jerman. Jerman dipilih karena memang dikenal
sebagai pusat industri dunia, sehingga insinyur merupakan bidang yang cukup
populer dari sana.
Keinginan
ini berlatar belakang dari usaha sang ayah, yang mengelola perusahaan perakitan
kendaraan di Jakarta, era 1960-an. Jadi, dunia permesinan dan otomotif sudah
dikenalnya sejak beranjak dewasa.
"Dulu
belum ada yang namanya ATPM (agen tunggal pemegang merek). Ayah saya membeli
Honda N360 dan merakitnya di Indonesia, selain itu skuter Lambretta juga sempat
diproduksi ayah saya," cerita Prijono.
Sang kakak,
Jongkie Sugiarto yang terpaut 11 tahun dengan Prijono sudah lebih dulu kuliah
dengan jurusan teknik mesin di Jerman. "Prijono kecil usia 10 tahun atau
12 tahun sudah melihat kakak. Akhirnya, selepas SMA saya berangkat ke Jerman
untuk kuliah teknik mesin. Saya selalu hormat pada beliau, dia itu guru
saya," ucap Prijono.
Butuh waktu lima tahun (1979 – 1984) bagi Prijono menyelesaikan gelar Diploma Ing di Universitas Mechanical Engineering, Konstanz, Jerman. Prijono bahkan mendapat penghargaan berupa "Awarded Carl-Duisberg Prize 1984" karena prestasinya yang baik selama menempuh pendidikan. Setahun sebelum wisuda, Prijono menyurati sang ayah di Jakarta perihal rencana kelulusannya.
Butuh waktu lima tahun (1979 – 1984) bagi Prijono menyelesaikan gelar Diploma Ing di Universitas Mechanical Engineering, Konstanz, Jerman. Prijono bahkan mendapat penghargaan berupa "Awarded Carl-Duisberg Prize 1984" karena prestasinya yang baik selama menempuh pendidikan. Setahun sebelum wisuda, Prijono menyurati sang ayah di Jakarta perihal rencana kelulusannya.
"Saya
lantas mendapat jawaban dari ayah, mengapa tidak meneruskan sekolah di bisnis.
Akhirnya, setelah lulus jadi insinyur mesin, saya lanjutkan sekolah di bidang
bisnis, masih di Jerman," ujar Prijono. Pri melanjutkan sekolahnya di
Universitas ASc Bochum, Jerman dan setelah dua tahun (1984-1986) menyabet gelar
master Diploma Wirtschaftsing dalam bidang Business Administration.
Setahun
setelah kelulusannya sekolah bisnis, Prijono kembali ke Jakarta untuk bekerja
di Tanah Air. Sebelum kembali ke Indonesia, Prijono sengaja kembali memperkuat
pengetahuannya soal teknik di Jerman. Hal ini dilakukan karena dirinya sudah
diterima sebagai Manajer Sales and Engineering di PT Daimler-Benz Indonesia
mulai 1987.
"Untung
saya punya background, jadi tidak bisa dibohongi, saya pernah bongkar kopling
sendiri, tahu bagaimana mobil tune-up, semua ada catatannya. Jadi lebih kuat
pengetahuan teknisnya," ujar Prijono.
Selama tiga
tahun berkarir, akhirnya pada 1990 Prijono mendapat tawaran pindah bekerja di
salah satu anak perusahaan Grup Astra, PT Tjahja Sakti Motor yang menaungi merek
mobil asal Jerman, BMW. Setelah tiga tahun berkarir dan memegang jabatan
General Manager, Prijono lantas mendapat promosi, menjabat sebagai Direktur
Operasional mulai 1990.
"Jadi
saya menyebrang merek, tapi tidak ada yang bisa complaint karena dua-duanya
(Mercedes-Benz dan BMW) merupakan almamater saya," ucap Prijono sambil
berkelakar.
Di bawah
kepemimpinannya, BMW yang kala itu masih di bawah kendali Grup Astra berhasil
menjadikan merek premium ini terlaris di Indonesia. Pada 1997, kenang Prijono,
BMW pernah mencapai pangsa pasar terbesar, mencapai 10 persen terhadap total
pasar mobil penumpang di Indonesia.
"Kami
sempat dihadiahi sebagai pangsa pasar dan penjualan terbesar. Setelah itu, 1998
masuk masa krisis, saya diminta pak TP Rachmat (Theodore Permadi Rachmat) untuk
menjadi direksi Grup Astra. Posisinya berat juga, mengepalai beberapa
perusahaan sekaligus, non-Toyota, ada Daihatsu, BMW, Isuzu, Fuji Technica, Gaya
Motor, Inti Pantja Press Industri, mulai tahun 2000," beber Prijono.
Bagaimana
kelanjutan karir Prijono Sugiarto setelah menjabat sebagai salah satu direksi
Astra, simak artikel selanjutnya. (Bersambung)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cita-cita "Tukang Insinyur" yang Berujung Jadi CEO Astra", https://otomotif.kompas.com/read/2015/06/10/094750915/Cita-cita.Tukang.Insinyur.yang.Berujung.Jadi.CEO.Astra.
Penulis : Agung Kurniawan
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cita-cita "Tukang Insinyur" yang Berujung Jadi CEO Astra", https://otomotif.kompas.com/read/2015/06/10/094750915/Cita-cita.Tukang.Insinyur.yang.Berujung.Jadi.CEO.Astra.
Penulis : Agung Kurniawan
1. Analisis
Judul:
·
Judul feature profil ini sudah memenuhi syarat untuk
menjadi feature yaitu 8 kata.
·
Judul feature tergolong menarik perhatian orang dimana
pembaca dapat termotivasi untuk meraih suatu hal setinggi-tingginya atau dapat
dikatakan pembaca juga dapat memiliki cita-cita yang lebih daripada cita-cita
yang dimiliki saat ini.
2. Intro
yang digunakan:
Pada intro
atau lead pada feature ini merupakan lead gabungan dari lead bercerita dan lead
penggoda. “Kehidupan ini sangat indah.
Tak semua perjalanan hidup manusia berjalan dengan mulus. Tentu banyak
rintangan dan hambatan dalam meraihnya. Kuncinya adalah kesabaran, keteguhan
hati, memiliki prinsip yang kuat, jujur, apa adanya, dan selalu melakukan
inovasi. Di balik kesuksesan seseorang, ada kisah-kisah mengharukan dan
menyedihkan. Semua itu adalah proses yang harus dilalui....” > lead
bercerita
“Kompas.com meneruskan serial artikel "Success
Story" tentang perjalanan tokoh yang inspiratif. Semoga pembaca bisa memetik
makna di balik kisah ini.” > lead penggoda.
3. Alinea
Perangkai
Alinea perangkai
(bridge) hanya 1 alinea yaitu:
“- Menjadi
pucuk pimpinan suatu perusahaan multinasional tentu bukan hal yang mudah
dilakukan. Determenasi, fokus, serta disiplin tinggi mutlak dipenuhi demi
menjaga stabilitas manajerial perusahaan. “
4.
Identifikasi 4W+1H:
What: Kisah
perjalanan Prijono Sugiarto yang menyelesaikan gelar Diploma Ing di Universitas
Mechanical Engineering, Konstanz, Jerman yang kemudian menjadi CEO dari Astra
Group karena pada awalnya mendapat tawaran pindah bekerja.
Who: Prijono
Sugiarto, Presiden Direktur PT Astra International Tbk
When:Pada
1998 Prijono Sugiarto diminta oleh TP Rachmat (Theodore Permadi Rachmat) untuk
menjadi direksi Grup Astra
Why: Prijono
menjadi direksi Astra karena pada saat itu sedang masa krisis dan TP Rachmat
meminta Prijono untuk menjadi direksi Grup Astra.
How: Saat
Prijono pindah kerja dari perusahaan BMW ke perusahaan Astra, tidak ada yang
komplen alias baik-baik saja.
5. Jenis
penutup: penutup klimaks karena berkelanjutan.
Comments
Post a Comment